terbangun dengan kegundahan mimpi
beranjak menyejukkan hati oleh rintisan air
jarum jam menunjukkan pukul 03:00 pagi
aku lantas khawatir pada diri
mengaambil 2 rakaat qiyamullail menyerah pada- Nya
Minggu pagi itu, seperti biasa
jam 05:45 waktu azan berkumandang
iya, ayah yang mengumandangkan azan itu
suaranya lirih, sedih, membuat setiap insan iba
seperti suara alam meneriakkan kesedihan nya pada manusia
aku lantas masih malu pada diri sendiri
kapan aku bisa bersua bersama TOA tua itu
aku bahkan masih bersembunyi
masih sama seperti putri malu,
di sentuh sedikit, iya lantas tersipu
kami berdiri meluruskan shaf kami
mengamini setiap do'a
dan mengakhiri setiap perjumpaan kami
dengan sedikit canda dan senyum
pagi itu selalu syahdu
sehabis berjamaah aku memisahkan diri
mengambil jalan berbeda untuk pulang
megarah ke ujung selatan dan berbelok ke tepian pantai
udara masih menyimpan kesejukan alaminya
jalan sangat gelap
terlalu pagi untuk di lewati
ya, bersama kegemerlapan itu
terkadang hati merasa gundah
air mata itu jatuh,
tidak ada alasan kenapa hal bodoh semacam itu terjadi
hanya kegelapan itu yang tau
hanya jalan yg merasa kesenduan air mata itu
ketika gelap itu berlalu
semuanya hilang, tanpa membekas
kembali di isi dengan sejuta energi positif
yang ada di dalam diri
sang fajar menyapa
matahari mengeluarkan vibrancy jingganya
sangat indah, bahkan lebih indah dari menara yang ada di paris sana
